Jumat, 08 Juni 2012

Tidur Siang

Apa yang akan anda lakukan jika siang ini anda merasa sangat lelah, tidak ada tugas atau kesibukan yang menunggu, suasana lengang dan nyaman, dan kasur sudah siap menunggu punggung anda? Tidur Siang!!! Jawaban yang simple, dan merupakan satu-satunya kegiatan yang tepat untuk dilakukan.

Saya kan sangat bersyukur jika mampu melakukannya, karena pada kenyataannya, saya tidak mampu seperti itu. Saya tidak pernah bisa tidur siang. Mungkin bukan tidak bisa, tapi sangat dilarang keras untuk tidur siang. Ya, memang cukup mengherankan. Dan mungkin anda akan semakin keheranan jika saya beritahu bahwa saya akan sakit jika tidur siang, walaupun hanya 10 menit. Setiap kali saya bangun dari tidur siang, kepala saya pasti pusing dan badan lemas. Dan itu akan terus saya rasakan hingga keesokan harinya, sehingga jika siang ini saya tidur siang maka besok kegiatan saya akan terganggu.

Dan itu sudah saya rasakan sejak lama. Mungkin ini karma Tuhan, karena dulu waktu kecil saya selalu kabur saat diminta tidur siang oleh orang tua saya. Bahkan ketika pintu dikunci dari luar, saya masih bisa melarikan diri lewat jendela. Hingga saya SMA pun, saya tetap tidak pernah tidur siang. Saya selalu pulang menjelang Maghrib, lalu keluar lagi sampai menjelang Subuh. Ya, mungkin ini karma.

Tapi apakah tidak ada alasan berbau medis yang mungkin bisa menjawab misteri ini. Apakah ini merupakan salah satu gejala sleeping disorder?!. Mungkin saja, mengingat saya juga memiliki masalah dengan tidur malam, yaitu selalu mengigau. Dan anehnya, igauan saya dapat menjadi obrolan panjang. Istri saya sering menggoda saya, jika saya mengigau, istri saya selalu mengajak ngobrol, dan ajaibnya saya bisa menjawab obrolan itu. Dan nyambung!!. Hal itu membuat saya sangat takut berselingkuh, karena pasti bocor,hehe.

Huhuhu, kembali ke masalah tidur siang. Karena saya tidak pernah berhasil tidur siang dengan nikmat (seluruh percobaan yang saya lakukan berakhir sama : sakit!!), akhirnya saya selalu menjadi the one to guard the village in the afternoon, karena istri saya dan (sepertinya) seluruh orang kampung saya pasti tidur siang, terutama pada hari Minggu. Rasanya sangat tidak nyaman. Sendirian, tidak ada kerjaan, ngantuk, tapi tidak bisa tidur siang. Ahh, ada apa dengan saya?!!!.

Akhirnya, SOLITAIRE menjadi teman setia saya di siang hari yang sepi, seperti hari ini.^_^

MENCARI ZUBAEDAH


“Cari Zubaedah !!”

Mungkin hingga detik ini aku bernafas, tak ada perintah yang terasa sangat berat untuk kulaksanakan, kecuali mencari Zubaedah.

Harus kemana kucari Zubaedah? Selama ini aku hanya bertemu dengannya selepas maghrib, berjalan ke arah kota. Atau ketika dia pulang menjelang Subuh ketika aku baru berniat memejamkan mata di pos ronda.

Lalu, harus kemana kucari Zubaedah? Tempat mangkalnya pun aku tak tahu. Apakah di wisma-wisma pinggir jalan yang lampunya redup, atau di antara nisan-nisan makam Cina di timur sana. Atau mungkin di tempat yang lain. Aku tak tahu.

Bahkan semisal aku dapat menemukannya, apa yang harus kulakukan disana? Bisa jadi aku dihajar para pelanggannya jika memaksa bertemu dengan Zubaedah. Ahh, entahlah.

Yang penting, saat ini aku berlari. Demi mencari Zubaedah, demi menyampaikan sebuah pesan : Minto, anak lelaki satu-satunya, telah meninggal tepat Adzan Isya’ berkumandang tadi.

Aku masih berlari, tak tahu arah yang kutuju, yang pasti ke ujung desa sana. Di sana ada perempatan, baru aku akan memilih jalan. Apakah ke kanan, ke kiri, atau lurus saja. Sementara udara jam setengah delapan ini sudah mulai dingin, bahkan sarung yang ku selempangkan di pundak tak dapat menahan hawanya. Entah bagaimana caranya, Zubaedah tidak pernah jatuh sakit walau berjam-jam di luar dengan pakaian minim.

***

Kisah Zubaedah, janda muda yang jadi pelacur, mungkin salah satu kisah termiris yang pernah ku ketahui. Zubaedah muda adalah gadis desa yang sangat taat beribadah, penampilannya kalem dan lembut. Jangan tanya wajahnya, hampir semua lelaki di kampung tak dapat memalingkan mata jika melihat Zubaedah berjalan di pagi hari mencuci baju di sungai.

Zubaedah tinggal sendiri, orang tuanya sudah meninggal saat usianya 15 tahun. Beruntung, kakaknya yang sakit-sakitan masih sempat menikahkan Zubaedah  tiga bulan sebelum dia meninggal. Lelaki beruntung yang menikahi Zubaedah adalah Pariyo, sopir bus malam antar provinsi. Zubaedah dinikahkan pada usia 16 tahun, dan langsung hamil sebulan setelah menikah. Namun malang tak bisa ditebak, si suami ternyata punya hobi nyeleneh : senang kawin. Lelaki itu tak lagi tak pulang setelah menikah beberapa bulan, hingga kehamilan Zubaedah mendekati persalinan. Kabar burung, dia menikah lagi dengan gadis asal Karawang. Akhirnya Zubaedah melahirkan didampingi Mak Sun. Hanya Mak Sun, karena suaminya sudah tak ada kabar.

Zubaedah kemudian bertekad membesarkan anaknya seorang diri. Tapi apa daya, yang tersisa di rumahnya hanya beberapa gram emas peninggalan emaknya, dan beberapa barang perabotan rumah tangga. Berselang bulan, semua itu sudah berpindah tangan.

Menyadari hartanya menipis, Zubaedah mulai mencari pekerjaan. Dimulainya dari menjadi buruh cuci di beberapa rumah tetangga. Namun hampir semuanya hanya berlangsung sebulan dua bulan saja, karena ibu-ibu tetangga cemburu melihat suaminya memelototi tubuh Zubaedah. Akhirnya Zubaedah harus mencari pekerjaan lain untuk menghidupi anaknya yang saat itu masih berumur 16 bulan.

Pekerjaan berikutnya, Zubaedah menjadi pelayan toko Haji Makki. Namun dia keluar setelah beberapa minggu disana. Ternyata putra Haji Makki, Aryo, sering tak tahan melihat Zubaedah sendiri di toko. Demi menjaga kehormatannya dan nama baik keluarga Haji Makki, Zubaedah memilih mengundurkan diri.

Pak RT yang kasihan pada nasib Zubaedah, kemudian mengumpulkan warga mencarikan jalan keluar untuk itu. Akhirnya warga sepakat mendaftarkan Zubaedah pada Kasmoyo, kerabat jauh Pak Hanif yang katanya bisa memberangkatkan Zubaedah menjadi TKW di Hongkong. Warga juga sepakat urunan membantu membayar biaya pendaftaran Zubaedah menjadi calon TKW.

Tapi berbulan-bulan setelah uang pendaftaran diterima Kasmoyo, ternyata Zubaedah tak juga berangkat ke Hongkong. Warga yang marah-marah lalu minta pertanggungjawaban Pak Hanif. Namun tetap tak ada kejelasan, hingga akhirnya ketika perhatian warga kembali tertuju pada Zubaedah, dia telah terlilit hutang cukup besar pada rentenir!

Jadilah Zubaedah pengangguran yang terlilit hutang, sementara anaknya, Minto, mulai tumbuh kekurangan gizi. Parahnya, semakin lama warga semakin tidak peduli pada Zubaedah, karena Pak RT yang selama ini memberi kepedulian lebih telah meninggal karena stroke.

Menyadari kondisi dan kebutuhannya, Zubaedah yang masih berumur 20 tahun kemudian mengambil keputusan penting : menjadi pelacur. Dan itulah yang dilakukan Zubaedah selama tiga tahun ini. Dari hasilnya sepertinya lumayan, karena dia bisa menyekolahkan Minto yang memang sudah usia masuk sekolah.

Warga bukannya tak tahu dengan pekerjaan Zubaedah, namun selama dia tidak mangkal di kampung atau melayani orang-orang kampung, warga merasa tidak keberatan. Toh, mereka juga mengerti bahwa tidak ada pilihan lain bagi Zubaedah.

***

Dan kini, aku sudah sampai di ujung kampung. Aku bimbang memilih ke arah manakah aku harus mencari Zubaedah. Kakiku gemetaran, bukan karena dingin, tapi karena memikirkan nasib Zubaedah yang sangat malang. Dia yang rela menjual dirinya untuk membesarkan putranya, melakukan apapun demi putranya, kini harus kehilangan harta terbesar dalam hidupnya.

Aku berdiri diam di tengah perempatan. Mendongak ke atas, melihat ribuan bintang-bintang di langit, tempat yang kupercaya sebagai tahta Tuhan. Aku menangis getir, karena aku yakin, bahkan adalah Tuhan yang membuat hidup Zubaedah sedemikian malangnya. Aku tahu bahwa Tuhan lah yang menyusun sebuah skenario hidup untuk Zubaedah, seorang gadis kembang desa yang menjadi pelacur. Namun aku ingin sekali bertanya, apa yang akan didapat Zubaedah dari skenario hidupnya yang seperti ini?

Jika aku mengikuti kata-kata pada Habib Arab di televisi tentang pelacuran, Zubaedah memang wajib masuk neraka. Tapi kenapa? Kenapa Tuhan tak memberikan Zubaedah hidup yang layak, suami yang baik dan sholeh, atau rejeki yang melimpah agar Zubaedah tak terjerumus dalam lembah hitam? Kenapa Tuhan menggariskan hidup Zubaedah seperti ini?

Bukankah Tuhan Maha Adil, tapi kenapa tak adil pada hidup Zubaedah? Kenapa hidup Zubaedah tak seperti Bu Sopiah yang janda tapi kaya raya? Kenapa harus begini hidup Zubaedah?

Aku sudah sangat lama mengerti bahwa Tuhan mengerti hingga setiap kata yang diucapkan hambanya dalam hati. Aku juga sudah lama diajarkan bahwa Tuhan mengatur setiap kejadian, bahkan sebatang ranting jatuh pun diketahui-Nya. Tapi mengapa Tuhan tak mendengar tangis dan ratapan Zubaedah tentang hidupnya? Mengapa Tuhan membiarkan Zubaedah yang kukenal taat beribadah terdera, tubuhnya disentuh puluhan atau bahkan ratusan lelaki hidung belang? Dan apa yang akan didapat Zubaedah dari hidupnya ini?

Aku terengah-engah mempertanyakan keputusan Tuhan akan hidup Zubaedah. Tapi apa mau dikata, keputusan Tuhan memang untuk dijalani, bukan dipertanyakan. Aku menyerah, Tuhan. Aku menyerah pada segala keputusanmu.

Akhirnya, aku tak kuasa berdiri lagi. Tubuhku mulai limbung. Aku sadar, aku akan pingsan disini. Aku akan pingsan di tengah perempatan ini.

***

Tepat sepuluh hari setelah pemakaman Minto, aku mendengar kabar Zubaedah mati bunuh diri.

Jumat, 25 Mei 2012

Semalam di Kota Kediri

Jam 00.30. Semoga belum telat.

Saya sangat tidak menduga bahwa acara malam itu baru selesai lewat tengah malam, padahal saya masih memiliki agenda terpisah di kota ini, yaitu menikmati malamnya. Ya, saya hanya satu malam berada di kota bernama Kediri ini, diantara agenda-agenda rapat yang sangat padat. Sementara saya punya setidaknya dua agenda 'jalan-jalan' disini, yaitu menikmati Malioboro ala Jalan Dhoho Kota Kediri dan menikmati gemerlapnya Simpang Lima Gumul pada malam hari.

Seandainya kawan saya, Laily, tidak memberi free guiding tadi pagi, mungkin saya akan melewati kota ini seperti kota-kota yang lalu : rapat, tidur, lalu rapat lagi, dan pulang. Itu saja. Tapi info-info singkat Laily membuat saya bertekad membuat malam di Kediri berbeda dengan di kota lain. Tapi apa mau dikata. Maksud hati memeluk gunung, apa daya rapat berlarut-larut, hingga sekarang jam setengah satu.

Saya dirundung galau. Besok agenda masih banyak, dan bukan hanya di Kediri. Badan saya capek, tapi hasrat saya menggebu-gebu. 'malam hari,jam 9an pas toko di jalan dhoho ud tutup,di sepanjang trotoar jalan dhoho jd lokasi kuliner pecel tumpang kdr mas,uasik deh pokok e.' Sepenggal SMS siang tadi yang semakin memompa hasrat saya untuk keluar dari hotel. Hmm, toh, cuma di depan ini.

Akhirnya saya bergegas kembali ke kamar, lalu berganti kaos. Sengaja saya tinggalkan hape dan arloji, agar tidak ada gangguan ataupun petunjuk jam. Saya ingin menikmati malam ini di pinggir jalan sepuas mungkin. Kemudian saya meninggalkan kamar dan membawa kunci berbentuk kartu ini. Beruntung kamar itu hanya untuk saya sendiri, jadi tidak akan ada yang terganggu kalau saya pulang agak pagi,hehe.

Jalan Dhoho malam itu lumayan gelap, mungkin karena seluruh toko sudah tutup semua. Digantikan oleh warung-warung dadakan misbar (gerimis bubar) yang menjual nasi goreng dan yang istimewa, pecel tumpang. Saya berjalan sebentar di sepanjang trotoar untuk melihat-lihat, hanya ingin memastikan bahwa para penjual nasi benar-benar tersebar di sepanjang jalan ini.

Saya kemudian memilih sebuah warung yang cukup ramai (bukankah ramai menandakan enak??!!). Saya langsung memesan se-pincuk nasi pecel tumpang plus paru goreng dan segelas es teh hangat. Setelah mendapat apa yang saya pesan, saya mencari posisi di sebelah bapak tua yang juga sedang menikmati malam ditemani menu makanan yang sama dengan saya. 

Kami ngobrol ringan, tentu saja dengan saya awali perkenalan khas saya, yaitu bahwa saya besar di Madura jadi kurang pandai berbahasa jawa dan hanya bisa berbahasa indonesia. Bapak itu bercerita tentang putri bungsunya yang baru menikah bulan lalu kemudian ikut suaminya ke rantau, dan juga tentang jempol kirinya yang siang tadi teriris gergaji dan dibalut perban di Puskesmas. Beliau menceritakan kisah-kisah itu dengan  nada dan suara yang cenderung riang menurut saya. Entahlah. Sepertinya saya harus belajar pada beliau tentang menikmati kehidupan.

Sedikit tentang nasi pecel tumpang khas Kediri. Jangan berharap rasanya seperti pecel di Kota Malang atau di Blitar yang cenderung manis. Pecel tumpang Kediri rasanya asin. Terus terang, saya kurang bisa menikmatinya, karena selain saya tidak suka sayur, saya juga pecinta rasa manis, jadi rasa asin kurang dapat diterima dengan baik. Apalagi itu adalah pecel !!!. Dan entah ada apa dengan kuliner kota ini, rasa teh manisnya juga cenderung manis agak asin, mirip oralit. Ahh, terkadang makanan khas tidak selalu berarti enak.

Tapi saya sungguh menikmati suasana malam di jalan ini. Seakan terjaga dalam tidur. Orang-orang datang untuk nongkrong di jalan untuk melepas beban kehidupan. Untuk sedikit beristirahat dari terik. Seakan tidur, namun terjaga, dan tentu saja, mulut mengunyah.

Tak lama, datang segerombolan pengamen. Mereka membawa gitar, biola, bass betot (bass yang ukurannya besar; contra-bass), dan conga (gendang yang dimainkan berdiri dan bagian bawahnya bolong). Lagu yang dimainkan adalah lagu Armada - Mau Dibawa Kemana. Mereka sangat piawai, dan memainkan dengan sangat merdu dan attraktif. Ahh, saya sedikit menyesal tidak membawa hape untuk merekam mereka.

Setelah agak lama ngobrol dengan bapak tua tadi, udara dingin mulai terasa. Mata saya juga sudah mulai berat. Sepertinya memang harus segera kembali ke kamar, berendam air hangat sebentar, lalu tidur lelap. Sambil melangkah, saya berpikir bahwa suatu hari nanti, saya harus kembali ke kota ini khusus untuk menikmati suasana malam di jalan ini dan juga di Simpang Lima Gumul. Ya, semoga malam ini bukan jadi kali terakhir.

Akhirnya, teruslah Bersinar Terang bahkan di kala gelap, Kota Kediri.

Senin, 14 Mei 2012

Masa-Masa Penuh Doa dan Harapan

Ternyata laki-laki.

Setelah beberapa bulan terkahir ini penasaran dengan kelamin anak pertama yang sedang di dalam kandungan istri saya, akhirnya tepat 7 bulan kami mendapat kabar gembira. Hasil USG menunjukkan adanya batang melintang di antara kedua kaki mungil bayi kami, yang menandakan bahwa kelaminnya laki-laki. Rasa syukur segera memenuhi hati dan perasaan kami. Ya, kami memang tidak mentargetkan bayi kami harus laki-laki atau perempuan. Apa saja asal sehat dan pintar. Berbakti pula tentunya. Kami selalu berpendapat, jika anak ini cowok, artinya dia akan menemani ayahnya berolahraga dan suatu saat nanti siap meneruskan semua usaha yang telah kami rintis. Jika perempuan, artinya nanti dia akan menemani mamanya masak dan akan ngomel2 setiap ayahnya mbangkong.hehehe

Segera saja kami memberitahu kabar itu kepada keempat orang tua kami (orang tua di Batu, dan orang tua di Bangkalan) serta beberapa teman dekat. Semua mengatakan bahagia, dan mengirimkan doa terbaik untuk calon jagoan kami. Ternyata, keempat orang tua kami sudah memprediksikan kalau anak ini laki-laki. Sedikit berbeda dengan pendapat pribadi saya yang sempat mengira dia adalah perempuan.

Memang beberapa minggu setelah pernikahan, saya bermimpi bertemu dengan awan yang mengatakan bahwa anak pertama saya adalah perempuan. Saya bercerita pada istri saya, dan spontan kami memikirkan nama untuk anak kami jika memang perempuan. Nama Zizi dipilih, dengan ribuan alasan yang mendorongnya. Yang pasti, kami suka nama Zizi.

Hanya, sedikit berbeda dengan mimpi saya, pada awal kehamilan ibu mertua saya bermimpi punya cucu laki-laki. Begitu pun ayah saya di Bangkalan, yang memang terkenal pahit lidah, memprediksikan bahwa anak pertama kami laki-laki. Dan mungkin prediksi yang muda-muda seperti kami tidak setepat prediksi ayah dan ibu. Terbukti, hasil USG menyatakan anak kami adalah laki-laki.

Langsung saja hari itu kami memikirkan nama bayi. Nama Aldila akan menjadi awalan, karena merupakan gabungan dari nama orang tuanya. Aldila memiliki makna Anak Lelaki Dimas dan Lisa. Setelah nama awal ketemu, lalu nama berikutnya akan ditentukan sebaik mungkin, karena nama kedua dan ketiga adalah doa kami, orang tuanya, untuk anak kami yang akan menjelajahi dunia di atas namanya sendiri. Terpikir nama Muhammad II Al-Fatih, Sultan dari Kerajaan Turki Utsmani yang berhasil memimpin pasukannya merobohkan benteng kokoh Konstantinopel demi kejayaan Islam. Nama Dzulqarnain, sang raja Macedonia, atau Dzulfiqar, pedang bermata dua milik Ali ra. juga terpikirkan.

Setelah memikirkan agak lama (sekitar dua hari), akhirnya nama panggilan Zaki kami pilih. Az-Dzaki berarti pandai atau cerdik. Dan beberapa alternatif nama lengkap pun sudah kami pikirkan, hanya tinggal menunggu waktu untuk membelai rambutnya dan membisikkan nama lengkapnya nanti setelah dia lahir di dunia.

Akhirnya, masa-masa ini adalah masa-masa yang penuh dengan doa dan harapan untuk kehadirannya. Semoga anak pertama kami ini lahir dengan selamat, dan menjadi matahari di tengah keluarga kecil kami. Tidak sabar untuk segera bertemu denganmu, Zaki.

Sabtu, 14 April 2012

Tentang mereka yang masih mau belajar

Dua orang itu datang ke kantor Kursus Bahasa Inggris kami, Super Smart Study Center, berharap bisa mengikuti proses pembelajaran Bahasa Inggris. Tentu saja kami terperangah. Dua orang itu bernama Pak Arifin dan Pak Munadi. Mereka sudah seusia ayah-ayah kami, setidaknya usia mereka sudah menginjak 40 tahunan. Namun semangat mereka untuk ikut belajar masih menggebu-gebu. Entah apa tujuannya, yang pasti keinginan mereka berhasil membuat kami luluh.

Namun masalah langsung muncul. Tentu tentang kelas mereka. Kami sudah memiliki beberapa kelas Bahasa Inggris terdiri dari beragam usia. Ada yang SD, ada yang SMP, dan ada yang untuk SMA. Namun belum pernah kami membuka kelas untuk usia di atas 30 tahun. Ide untuk menggabungkan kelas bapak-bapak itu dengan kelas SMA kami urungkan, karena kemampuan Bahasa Inggris mereka bisa dibilang pemula sekali, sedangkan rata-rata siswa kelas SMA kami sudah mampu melakukan English Debate.

Memang jalan keluar yang ada hanyalah memasukkan Pak Munadi dan Pak Arifin ke kelas privat. Dengan jumlah siswa yang tidak sebanyak kelas reguler (hanya mereka berdua), pasti mereka dapat belajar dengan lebih intensif. Namun, karena keistimewaan kelas privat ini, harga untuk setiap pertemuan membuatnya jauh lebih mahal daripada kelas reguler.

Inilah yang menjadi masalah berikutnya. Pak Arifin dan Pak Munadi bukanlah bagian dari masyarakat atas maupun menengah. Menengah bawah, itu mungkin kualifikasi mereka. Dan menjangkau harga kelas privat tentu memberatkan mereka, yang juga harus menghidupi keluarga mereka. Pak Munadi hanyalah seorang makelar kecil-kecilan, dan Pak Arifin tidak lebih baik, hanya seorang pengamen yang kadang ikut orkes.

Akhirnya, setelah berdiskusi sebentar dengan Adhy, rekan pengelola di tempat kursus, kami sepakat untuk memberi harga seminimal mungkin untuk bapak berdua itu. 50% potongan, yang penting mereka mau belajar dengan semangat. Ditambah satu syarat, yaitu mengajak 1 orang teman lagi. Jadi setidaknya, biaya kursus mereka setiap pertemuan sudah dapat membayar insentif mentor. Bahkan mereka kami beri keringanan untuk membayar biaya pendaftaran di belakang. Entah kapan, kami sama sekali tak mengharapkannya.

Beberapa hari kemudian, mereka datang lagi untuk memulai kelas pertama. Dinda, sang mentor juga sudah siap memberi materi pengenalan Bahasa Inggris. Yang cukup menggelikan adalah mereka malam itu hadir dengan pakaian rapi, berkemeja dan bersepatu kulit. Hingga saat ini pun selalu seperti itu. Mereka sepertinya benar-benar ingin menghargai pengalaman demi pengalaman yang akan mereka dapatkan disini.

Kelas sudah disiapkan, spidol sudah diisi tinta, dan kursi sudah ditata. Mereka pun belajar dibawah bimbingan Dinda. Kami di kantor harap-harap cemas menunggu mereka keluar. 1,5 jam kemudian, Dinda keluar. Kelasnya sudah selesai. Namun Pak Munadi, Pak Arifin, dan Pak Zul (rekan mereka) masih belum keluar. Bahkan hingga Dinda pamit pulang 10 menit kemudian, mereka belum keluar. Saya mengintip ke ruang kelas dari celah jendela, penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Mengejutkan. Mereka berdiskusi tentang materi tadi. Bahkan mereka juga mempraktekkan kata demi kata, kalimat demi kalimat yang tertulis di papan tulis.

Saya benar-benar terkesima. Sepanjang hidup saya, belum pernah saya melihat orang-orang yang sebegitu menghargainya terhadap ilmu pengetahuan. Mereka bertahan di kelas, tetap perhatian terhadap papan tulis, dan mengulang kembali pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan baru saja. Saya, dengan mata kepala saya sendiri, melihat Pak Arifin memimpin teman-temannya (kalau boleh mengatakan, mengajari) teman-temannya untuk mengucapkan maupun menghafal setiap kata-kata baru yang mereka dapatkan. Bahkan guru mereka sudah pulang dari tadi!!!

Saya kembali ke kantor, lalu termenung. Saya mengingat-ingat kembali masa-masa belajar saya dulu, baik di kampus maupun di sekolah. Saya menyadari bahwa saya termasuk orang-orang yang sombong, yang bahkan tidak ingin kehilangan 1 menit pun dari waktu santai untuk belajar. Saya dulu adalah anak yang berteriak paling kencang saat bel pulang berdering, atau menirukan suara bel saat waktu pulang kurang tiga menit. Saya mungkin juga mahasiswa yang paling sering melirik jam dinding atau jam di hape untuk memastikan dosen saya tidak melewati waktu selesai kuliah.

Kini saya benar-benar tergugah oleh ketiga bapak itu. Mereka adalah orang-orang yang memuja dan menghargai pelajaran. Bukankah ilmu itu adalah kalimat Tuhan, dan ilmu juga adalah nama Tuhan. Kenapa saya selama ini justru membiarkan diri saya pelit waktu terhadap Tuhan?

Akhirnya saya ingin menyadari bahwa ketiga bapak itu sesungguhnya adalah guru saya, guru untuk memuja Tuhan lebih dalam lagi.

Selasa, 10 April 2012

Ikan Saya Belum Diberi Makan

Dulu saya membuat blog ini untuk menulis apa yang ada dalam pikiran saya. Tentang kisah ringan, hingga kemarahan-kemarahan. Blog ini memang tidak pernah menjadi rutinitas. Saya hanya menganggapnya sebagai keset rumah, saya injak ketika kaki saya kotor, atau ketika saya merasa saya harus menginjaknya.

Begitu juga hari ini, saya membuka lagi blog ini iseng-iseng dan melihat kotak kecil berisi ikan-ikan elektrik warna-warni. Saya kaget, sudah berapa lama saya tidak memberi makan ikan saya? Sudah sekitar 4 bulan!!! Dan ikan-ikan itu masih hidup, tetap bergerak lincah, menunggu diberi makan oleh pemiliknya yang pelupa.

Saya hanya berharap, saya bisa lebih meluangkan waktu untuk setidaknya memberi makan ikan-ikan kecil itu.

Doppleganger

Doppleganger adalah sebuah kepercayaan tentang seseorang yang memiliki kembaran fisik di dunia ini, meskipun sifatnya berbeda. Banyak versi tentang kepercayaan ini, mulai dari kepercayaan bahwa setiap orang memiliki 7 dopplegangers, hingga kepercayaan bahwa seseorang yang telah memiliki doppleganger akan terselamatkan dari bencana, bahkan meraih kesuksesannya.

Banyak orang yang kemudian menyikapi kepercayaan doppleganger ini dengan sangat berlebihan, diantaranya dengan berkelana mencari kembarannya, atau memasangkan iklan-iklan untuk mencari seseorang yang secara fisik mirip dengannya. Tidak hanya itu, para pelaku bisnis juga menggunakan kepercayaan tentang doppleganger untuk meraup pundi-pundi uang. Tentu kita masih ingat acara ASAL (Asli atau Palsu) di salah satu stasiun televisi swasta beberapa tahun lalu. Dengan mempertemukan para tokoh dengan orang-orang yang mirip dengannya, acara ini sempat meraih rating yang lumayan di kala itu.

Namun, terlepas dari doppleganger kita yang mungkin saat ini sedang berkeliaran di bagian dunia yang lain, kita juga harus menyadari bahwa diri kita sendiri juga merupakan doppleganger dari diri kita sebelumnya. Pernahkah kita menyadari bahwa kita yang saat ini, bukanlah diri kita lima tahun yang lalu. Sesuatu dalam diri kita berubah. Lima tahun yang lalu, atau mungkin bulan lalu, atau mungkin kemarin, kita bisa pastikan bahwa kita berbeda dengan kita saat ini. Bahkan meskipun secara fisik tidak berubah, kita pasti menyadari bahwa semesta mengajari kita sesuatu, yang kemudian mengubah pemikiran dan kepribadian kita. Dan saat kita benar-benar menyadarinya, kita akan menemukan bahwa diri kita saat ini adalah orang berbeda dengan diri kita kemarin, namun dengan fisik yang sekilas sama.

Dan di saat itulah, kita menyadari bahwa kita adalah doppleganger dari diri kita yang sebelumnya.

Kamis, 20 Oktober 2011

Kisah Seorang Mutiara

Terkadang kita lupa untuk sekedar mengucapkan syukur atas apa yang kita miliki hari ini.


Terhitung sejak dua hari yang lalu, saya berkenalan dengan seorang pemuda asli Kota Batu, bernama Adi. Dia adalah teman istri saya semasa SMA, dan kami berkenalan dalam membantu usahanya yang baru akan dirintis. Seorang teman baru, yang mungkin dalam beberapa waktu ke depan akan sangat intens berkomunikasi dengan saya dan istri saya.

Mengenalinya dalam waktu yang singkat ini membuat saya mengingat kebesaran Tuhan dalam menentukan langkah yang dilalui oleh makhluknya. Ya, dia adalah seorang pemuda biasa, seperti pemuda-pemuda lainnya. Anak band, pacaran, pakaian up-to-date seperti pemuda-pemuda lainnya. Namun ternyata Tuhan sangat berkuasa atas membuat teman saya ini berbeda dengan yang lain. Ketika yang lain mengejar jabatan di perusahaan-perusahaan multi-nasional atau menjadi aparatur negara dengan gaji yang melimpah, Adi memilih membenamkan dirinya untuk mengajar di sebuah Sekolah Luar Biasa.

Kisah perkenalan ‘anak band’ ini dengan sebuah SLB di Kota Batu cukup mengherankan. Dia ditawari mengajar musik di sebuah sekolah yang fasilitas studionya cukup lengkap. Mengajar musik sebenarnya bukan sesuatu yang sulit untuk seorang musisi sepertinya. Namun yang akan diajar adalah anak-anak yang memiliki keterbelakangan, baik fisik maupun mental. Dan sangat mengejutkan juga, bahwa Adi menerima tawaran itu, tepat beberapa hari setelah Ujian Akhir SMA 2007.

Pada hari pertamanya, dia datang dengan dandanan anak band-nya : celana jeans belel dan rambut gondrong. Kedatangannya disambut dengan pandangan heran siswa-siswa SLB, yang kemudian membuntutinya ke Kantor Kepala Sekolah sambil berteriak-teriak “Ada anak Punk.. Ada anak Punk” serta menungguinya keluar sambil tiduran di lantai kantor. Adi bercerita bahwa saat itu dia mendapat kesan yang tidak nyaman dari siswa-siswanya.

Siswa-siswa Adi bermacam-macam keadaannya. Ada yang terlihat biasa-biasa saja, namun tidak mendengar jika dipanggil. Ada yang tidak memiliki tangan dan kaki, namun dikaruniai suara yang sangat indah. Ada yang selalu terlihat kosong namun ternyata pandai menghitung. Ada pula yang selalu berpura-pura mengerjakan soal, namun kertasnya kosong. Dan yang lebih menyedihkan, ada yang secara fisik kurang mampu, dan mentalnya juga tidak dapat diharapkan.

Hari-hari pertama Adi dilalui dengan perasaan yang tidak menentu. Dia mengajar siswa-siswa Tuna Grahita hingga Tuna Rungu cara bernyanyi atau bermain alat musik. Tentu sangat berbeda dengan mengajari orang normal bermusik, karena siswa-siswanya membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk bisa bernyanyi lagu ‘Balonku’, atau memainkan satu lagu singkat dengan gitar. Belum lagi banyak dari mereka yang susah dikendalikan dan sering membuat kekacauan.

Di SLB itu, jumlah guru tidak selengkap di sekolah-sekolah normal lainnya sehingga Adi juga mengajar olahraga. Selang beberapa bulan, Adi diangkat menjadi guru kelas Tuna Rungu. Dia memberi pelajaran lengkap sesuai kebutuhan anak-anak didiknya, tentu saja dengan bumbu-bumbu kejengkelan atau kelucuan yang tidak akan pernah ditemukan di sekolah normal.

Di antara cerita-cerita Aldi, saya merasakan betapa perjuangannya sangat keras untuk mendidik ‘anak-anak khusus’ disana. Mulai dari menghafalkan bahasa-bahasa isyarat hingga berusaha membangkitkan semangat mereka. Tidak jarang Adi mendapat perlakuan yang tidak baik, mulai dari ditendang siswanya yang rata-rata seusia dengannya sampai merasakan diludahi. Namun Adi tetap berhati besar untuk tidak menyerah. Dan yang lebih membuat terharu adalah, Adi melakukan semua itu untuk gaji yang hanya 100 ribu rupiah per bulan.

Kebesaran hati Adi ternyata membuahkan hasil. Dia berhasil membawa siswa-siswa istimewanya menjadi juara di hampir seluruh kejuaraan yang mereka ikuti, mulai dari lomba menyanyi tingkat Propinsi dan Nasional, lomba mata pelajaran, dan lomba olahraga. Itu menjadi hiburan tersendiri bagi Adi di antara perjuangan kerasnya. Di samping itu, mengajar SLB juga cukup menggelikan baginya. Adi berkisah tentang perjuangannya memberi isyarat pelanggaran atau off-side pada para penyandang Tuna Rungu saat bermain sepak bola. Dia juga bercerita tentang rasanya ditembak oleh siswinya yang berkebutuhan khusus, serta perjuangannya untuk menolak pernyataan cinta itu.

Salah satu yang cukup menggelikan adalah pada saat terjadi gempa bumi beberapa hari yang lalu. Saat itu Adi langsung membawa siswa-siswa Tuna Grahita maupun yang cacat fisik untuk turun ke halaman sekolah. Setelah sampai di bawah, Adi lupa bahwa siswa-siswa Tuna Rungu tidak dapat mendengar keributan yang terjadi. Dia segera menoleh ke lantai dua, tempat siswa-siswa Tuna Rungu belajar. Sungguh miris, disana dia melihat sekumpulan orang-orang yang tak dapat mendengar itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arah kawan-kawannya yang sudah di halaman. Siswa-siswa Tuna Rungu tidak mendengar apa yang terjadi, tapi mereka dapat melihat bahwa teman-teman mereka berkumpul di halaman, sehingga mereka kemudian melambaikan tangan mereka dengan polos. Adi segera berlari ke lantai dua untuk mengajak mereka turun ke halaman.

Namun tentu saja, kekurangan mereka tetap meninggalkan kisah-kisah yang menyayat hati. Ada beberapa di antara siswi Adi yang dihamili oleh orang-orang berhati bejat, yang semakin menyuramkan masa depan mereka. Ada pula yang kemudian terusir dari keluarganya, lalu menjadi pengamen di alun-alun dengan bermodalkan lagu Balonku yang hanya hafal dua baris awal yang disambung dengan dua kalimat syahadat. Sungguh miris saat Adi bercerita tentang orang-orang yang tak beruntung itu.

Adi sungguh mengesankan. Saat pemuda normal seusianya saling bersaing menjadi mutiara terbaik seperti yang diimpikan, Adi memilih untuk menjadi mutiara yang menerangi kerikil-kerikil di kedalaman laut. Setidaknya, dia sudah membuktikannya bahkan sejak ijazah SMA nya belum ditandatangani.

Senin, 10 Oktober 2011

MEMBACA REMBULAN

Membaca rembulan.

Sejak kecil saya selalu suka melihat rembulan yang bersinar kekuningan, tak peduli apa bentuknya. Entah sabit, setengah lingkaran, atau lingkaran penuh. Bulan adalah cermin sebuah perjalanan, yang entah mengapa berpola melingkar-bersinambungan (continuous loop). Bisa jadi malam ini bulan masih berbentuk sabit runcing, dan esok akan meneruskan perjalanannya menjadi lingkaran penuh. Namun bulan akan kembali lagi pada bentuknya malam ini, sabit runcing, suatu saat nanti. Tidak selesai pada bentuknya saat itu, bulan selalu berjalan menjadi bentuk-bentuk yang pernah dia buat. Atau pergi menghilang dari malam, seolah bosan berjalan, tapi esok dia akan berjalan lagi. Tidak pernah selesai.

Perjalanan abadi bulan menjadi kumpulan pertanyaan, sejak kapan dan hingga kapan.
Sejak kapan bulan memulai perjalanannya? Dalam bentuk yang seperti apa? Apakah bulat penuh, atau setengah penuh, atau sabit runcing?
Dan hingga kapan perjalanannya akan berakhir? Dalam bentuk apakah bentuk terakhirnya?

Lantas, dalam perjalanannya, apakah bulan tidak bosan terjebak dalam kemonotonan perjalanannya?
Apakah mungkin bulan malam ini, entah apa bentuknya, adalah bulan yang berbeda dengan kemarin? Hanya berbeda shift saja.
Ataukah dalam setiap peredarannya, bulan lupa bahwa dia pernah melewati itu semua, sehingga dengan senang hati dia kembali berjalan seperti kemarin?

Apakah perjalanan continuous loop bulan adalah perjalanan kita semua?
Lahir, berjalan, bermain, tumbuh dewasa, menikah, memiliki keturunan, lalu meninggal, dan hidup lagi untuk menuju dewasa dan meninggal lagi.

Lalu, dalam perjalanan kehidupan kita, tentang perjalanan hidup kita, apakah kita juga demikian?
Apakah kita sebenarnya dibuat menjadi lemah dan lupa bahwa kita pernah menjalani kehidupan sebelumnya?
Siapakah saya di kehidupan sebelumnya?

Sementara saya terus bertanya, rembulan terus berjalan...

Minggu, 09 Oktober 2011

PENDEKAR JURUS MABUK

Sebuah catatan dari seorang dosen..

Di suatu negeri lahirlah seorang pendekar perempuan hitam kekar. Wajahnya menakutkan. Tutur katanya halus tetapi berdarah dingin. Di tangan kanannya digenggamlah surga dan tangan kirinya neraka. Dia menguasai sebagian wilayah negeri. Yang tidak menurutnya apalagi melawan, dimasukkannya ke dalam wajan penggorengan, neraka miliknya. Yang selalu menurutnya tentu surga yang didapat. Karena kekejamannya itu sudah beberapa rakyatnya yang menjadi korban. Mereka disiksa dengan kesulitan dan ketakutan hidup. Tirani, tidak ada satupun yg bisa menjatuhkan. Hidup dalam ketakutanlah yg dirasakan oleh rakyatnya. Jurus mabuk adalah strategi mengatur negerinya.

Sebenarnya di negeri itu sudah ada para kesatria dan pemikir cerdas yang siap menghadapi kedholiman pendekar. Namun, aksi mereka sedikit terkecoh oleh beberapa rekan yang bersikap ambigu karena sudah pernah mencicipi surga pendekar, uuuuenak katanya, bahkan ada yg bilang "alhamdulillah". Padahal sedikit , tak sebanding dengan apa yg dirasakan rakyat akibat kekejaman pendekar. Di lain pihak, ada yg berpesta api unggun ingin menyaksikan kemenangan pendekar karena ia mendapat iming-iming surga.

Oya, umur si pendekar itu ya sudah renta, sudah sering sakit-sakitan, tapi gak mati-mati karena punya kekebalan ilmu hitam. Bergurunya jauh sekali, di luar negeri. Tapi dasarnya memang berhati hitam, selegam kulitnya, jadi, yang dicari ya ilmu-ilmu hitam. Misalnya, bagaimana supaya rakyatnya yang cerdas tapi tidak ia sukai itu menjadi bodoh, tidak mendapat kesempatan mencari ilmu. Bagaimana supaya kesatria pangkatnya tidak naik-naik karena selalu mengkritisi jurus-jurus mabuknya. Dan sengaja rakyatnya dibuat kacau berebut makan. Dia meringis kalau menyaksikan rakyatnya itu berjubel dan berbaku hantam satu sama lain, berebut tetesan surga yang dikucurkan dari tangannya- yang sebenarnya mereka adalah orang-orang baik-.

Sebagai pendekar yang cukup ditakuti di wilayahnya tentu ia memiliki para pengikut setia. Tingkah polah dan sikap para pengikutnya, pasti tidak jauh beda dengan si pendekar itu. Bagi para pemikir dan kesatria yang pernah menempuh ilmu di perguruan yang mengedepankan moralitas, perilaku mereka itu sebenarnya tidak pantas dijadikan para punggawa. Tapi, ya, karena ini kan pemimpinnya orang hitam luar... dalam dipastikan orang-orang yang terpilih juga yang suka berhati hitam. Mereka suka menjilat sudah barang tentu. Omaongannya sulit bisa dipercaya dan suka makan hak orang lain. Kalau ngomong, nerocos, seolah-olah dia pintar dan beraliran orang putih, berputar-putar dan suka bersilat lidah. Misalnya dia mengatakan "kamu harus berterima kasih kepada lembaga (pendekar) yang telah membantu kamu". Padahal, sebenarnya mitra tutur itu punya hak yang lebih menurut ketentuan di pusat. Mulutnya suka komat-kamit ke sana kemari untuk memperlihatkan pada yang lain bahwa dia adalah orang sakti karena dekat dengan sang hyang widi. Para punggawa itu sangat setia karena di samping merasa seperguruan, juga merasa sangat senang dan berterima kasih atas jasa-jasa pendekar yang mengubah drastis hidup mereka dan status sosialnya, bisa bergelimang manisnya surga buatannya. Begitu menjadi punggawa, jiwa uforianya langsung muncul seolah-olah dia tidak akan pernah bernasib seperti rakyat yang lain -yang sengsara-.

Tentang penidikan para punggawa itu, sebetulnya awalnya biasa-biasa saja. Mereka menjadi top karena difasilitasi oleh pendekar untuk maju, sehingga mereka bisa belajar ilmu di beberapa perguruan bonafit dalam dan luar negeri. Bahkan, ada punggawa yang status pendidikannya tidak jelas karena sebelumnya ijazahnya hanya pendidkan khusus/seperti kursus di perguruan tertentu, bukan ikut kelas reguler, ...sehingga secara keilmuan pun memang meragukan kesaktiannya, kecuali dalam strategi perang. Mereka sudah canggih karena sejak awal dia selalu berpikir trik berperang. Ya...intinya yang penting menang. Jiwa kejam itu sudah melekat sejak awal pada para penganut ilmu hitam. Tidak ada dalam pikiran mereka idealisme itu bagaimana, padahal sebagian tugas mereka adalah menjadi guru. Mereka berpikir sangat praktis, yang penting dapat tiket masuk surga itu. Mereka sangat tidak cocok dengan orang-orang yang mengedepankan idealismenya. Mereka sering mengatakan bahwa para kesatria itu banyak omong atau provokator. Padahal, bagusnya negeri itu berawal dari hal-hal yang ideal dan idealisme adalah paradigmanya. Para kesatria itu menginginkan hal-hal ideal itu diterapkan di perguruannya karena disitulah pribadi bangsa di bentuk, sehingga perguruan menghasilkan lulusan-lulusan yang berkarakter atau bermoral baik.

Dasarnya memang para punggawa berhati hitam sehitam hati boss, meskipun dapat ilmu baik-baik di negeri seberang, kembali ke tempat asal ya, tetap tidak baik. Misalnya, sekarang bilang A besok ganti B. Dalam waktu sehari lidahnya sudah terbalik. Memang ini persis yang dilakukan oleh pendekar jurus mabuk. Pernah dia mengumpulkan rakyat supaya melanjutkan sekolah agar kualitas kerajaan membaik. Denga...n spontan rakyat yang polos dan jujur menangkap wejangan itu dengan suka cita. O...ternyata pendekar hitam ini baik juga, orangnya berpikiran maju. Akhirnya, beberapa rakyat yang semangat sekolah memilih tempat pendidikan yang bagus, yang diidam-idamkan banyak orang. Oalah, apa lacur...ternyata yang dimaksudkan oleh pendekar itu supaya rakyatnya itu segera sekolah di tempat belajarnya yang dulu. Mungkin ada kerja sama dengan para pendekar di sekolahnya yang terdahulu itu. Dan, ternyata pendekar hitam itu sudah membuat aturan licik (karena kekuasaannya, meskipun terkesan dipaksakan, mengada-ada). Intinya, yang berguru di tempatnya dulu, akan tetap mendapat gaji, sedangkan yang di luar daerahnya, gaji dihentikan. Aturan yang dibuat sendiri dan mengada-ada karena menurut sistem pemerintah pusat, kebijakannya tidak seperti itu. Pokoknya jurus mabuknya selalu dipakai untuk apa saja yang ia inginkan. Biar para pembaca tahu ya...di perguruan tempatnya yang dulu itu sebenarnya ilmunya juga baik-baik. Namun, kabarnya, para lulusannya itu kalau bekerja dan berorganisasi juga suka memakai jurus mabuk. Jurus mabuk itu ya ngawur yang penting dapat, dan suka main keroyok tidak layaknya para kesatria dari perguruan lainnya.

Dalam hal keroyok-mengroyok, para punggawa sangat kompak. Bila ada orang yang sama ilmunya di tengah-tengahnya tapi dari perguruan yang lain, mereka menganggap itu sangat berbahaya dan harus dimusnahkan. Intinya, mereka berpikiran bahwa orang yang bukan dari kelompoknya adalah musuh, terlebih ia datang dari berbagai perguruan yang lebih mengedepankan moralitas itu. Mereka khawatir di samping pos...isinya tergeser juga khawatir ketahuan perilaku korupnya. Di samping memiliki kebiasaan korup, sikap komunalnya sangat tinggi. Artinya mereka akan mengundang teman sebanyak-banyaknya untuk mengeroyok makanan tanpa dipikirkan bagaimana kelanjutan cara mencari makan kerajaan. Mereka mendatangkan pasukan sekompi, juga bertujuan untuk menyingkirkan yang bukan kelompoknya. Primordial sekali dan seperti budaya masyarakat primitif. Tidak habis pikir mengapa perguruan mereka dulu membuatnya seperti itu. Para punggawa sering panik melihat para kesatria yang cerdas meskipun para kesatria sebenarnya juga tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Ya, mungkin karena merasa kurang kompeten saja yang membuat mereka sering mabuk, kikuk, dan bingung pada saat menghadapi para kesatria cerdas dan pintar, tidak mau dibodohi itu. Pada saat yang demikian biasanya mereka suka mengeluarkan jurus mabuknya. Misalnya, tidak memfungsikan orang-orang cerdas itu sebagai guru. Jam mengajarnya dikurangi, tapi ngomongnya kepada yang lain adalah karena para kesatria itu sikapnya arogan, dan memang tidak mau mengajar. Kan sama persis dengan sikap pendekar mabuk itu. Kekejaman mereka dibungkus dengan kemasan bahasa yang halus dan religiusitas yang seolah baik. Semua itu tidak lain adalah untuk menutupi hal sebenarnya yang hitam kelam itu. Dan dengan bersenjatakan itu buktinya mereka mampu menyingkirkan siapapun yang dianggap lawan. Artinya, mereka bukanlan orang beragama sejati. Mudahnya, jika ada yang mau membeli mahal mereka supaya melakukan apapun sesuai dengan pesanan, dia akan lebih menunjukkan ketaqwaannya kepada sang hyang widi supaya lebih terlihat kesaktiannya.

Diantara para punggawa dholim itu ada satu yang perilakunya merupakan fotokopi pendekar. Jadi, apa yang ada dipikiran pendekar itu ada persis seperti di pikiran punggawa itu. Dialah punggawa kesayangan pendekar. Sekilas wajahnya seperti orang baik dan polos. Namun, satu jam saja bersama dia, bisa dirasakan magnetik kebenciannya kepada orang-orang yang menjunjung idealisme. Dia berjuang mati-matian untuk menjaga nama naik pendekar dan supaya pendekar tidak dijuluki sebagai pendekar jurus mabuk, karena sebenarnya julukan itu adalah cemoohan kepadanya dari para kesatria dan rakyat atas kebijakannya yang amburadul dan tidak tersistem atau bahkan terkesan primitif. Dia selalu berpenampilan ramah kepada kesatria yang dianggap musuhnya, ya halus, supaya musuhnya tidak tahu bahwa sebentar lagi dia akan mati. Ilmu licik itu seolah sudah mendarah daging di tulang sum-sumnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, apalagi rasa berdosa. Makanya mereka dikatakan "berdarah dingin itu". Meskipun korban (jika rakyat) tahu akan gelagat dia ke sana (akan menghabisinya), sebagai orang yang belum pernah mengenyam ilmu hitam, apalagi mempraktikkannya, apalagi dapat gelar berhati hitam, tentu mereka berusaha bersikap polos dan selalu menjaga pikiran positif kepada punggawa seperti yang dilakukan pula oleh para kesatria. Ternyata kepolosan, kejujuran, dan etikat baik rakyat/kesatriapun akhirnya dipakai pula sebagai senjata melumpuhkan. Bahkan, semboyannya meskipun orang yang dianggap musuh/lawan sudah tinggal separuh nafas, tetap harus dihabisi.

Pendekar jurus mabuk yang berambut keriting itu sudah berkali-kali merebounding rambutnya, tapi tetap saja tidak bisa lurus-lurus, bahkan kapster sering minta ongkos dobel untuk meluruskannya karena membutuhkan waktu 3x lipat dibandingkan dengan rambut perempuan pada umumnya. Menurut kapster yang suka nginang itu (paranormal juga) yang keriting bukan sekedar rambutnya, tapi memang pikiran-pikirannya juga keriting. Dia tidak pernah berpikir lurus, sedangkan rambut merupakan bagian tubuh yang melekat pada organ kepala. Rambut itu paling dekat dengan otak manusia yang menyimpan berjuta pikiran. Jadi bisa ditebak berjuta pikiran semrawut ada di otaknya. Pantas saja kebijakan-kebijakannya semrawut juga sesemrawut rambut dan pikrannya itu. Kapster untuk meluruskan rambutnya saja perlu waktu 3x apalagi untuk meluruskan pikirannya. Memerlukan waktu 3x lipat lagi dari waktu meluruskan rambut. Bahkan kapster pernah minta ampun agar tidak rebounding lagi di tempatnya karena meskipun seperti tidur waktu direbounding pikirannya masih berjalan ke sana- ke mari yang tentu sangat merepotkan kapster. "Wah pendekar hitam ini memang tidak bisa menjadi orang putih, akan tetap hitam sampai api neraka nanti menghanguskan badannya".

Sabtu, 08 Oktober 2011

SURAT UNTUK YANG ADA DALAM TIADA

Sepucuk surat untuk yang tiada,

Tanpa tendensi apa-apa,

Tanpa kata-kata memikat rasa,

Hanya secoret tanda tangan,

Yang bertanya ‘Dimanakah anda saat malam berganti siang dan embun berceceran?’


Sepucuk surat untuk yang tiada,

Tanpa tendensi apa-apa,

Tanpa kata-kata memikat rasa,

Hanya secoret tanda tangan,

Yang bertanya ‘Apakah anda juga bersama saya atau anda hanya di angan-angan?’


Sepucuk surat untuk yang tiada,

Tanpa tendensi apa-apa,

Tanpa kata-kata memikat rasa,

Hanya secoret tanda tangan,

Yang bertanya ‘Kami bertengkar akan kebenaran, apakah anda akan memilih pijakan?’


Sepucuk surat untuk yang tiada,

Tanpa tendensi apa-apa,

Tanpa kata-kata memikat rasa,

Hanya secoret tanda tangan,

Yang bertanya ‘Kemanakah surat ini ku alamatkan? Kapankah surat ini kan kau balas?’


Sementara aku yang menunggu,

Tertembak peluru temanku sendiri,

Terperosok lubang perangkap pemimpinku,

Tertohok panah bawahanku yang primitif,

Terlindas tergilas bentuk bumi yang bulat monoton,

Dan terpasung di tengah penguasa mata angin.


Lalu kapan kau mau menolongku ?.